APAKAH TAMANSISWA ITU ?

   Untuk menjelaskan tentang sesuatu benda yang tidak diketahui, Ki Hadjar Dewantara biasa menggunakan teori : Sifat, Bentuk, Isi dan Irama (SBII). Teori itu menggambarkan sifat suatu benda yang selalu tetap sepanjang masa, sedang bentuk, isi dan irama/geraknya selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan alam dan jamannya.

Dicontohkan oleh Ki Hadjar Dewantara tentang pohon kelapa. Sejak dahulu sampai sekarang kelapa tetap bersifat sebagai tanaman yang berjenis palma. Tetapi bentuk, isi dan irama tumbuhnya berbeda- beda. Dahulu bentuknya tinggi-tinggi sekarang rendah-rendah. Dahulu isinya tebal-tebal, sekarang tipis-tipis. Dahulu tumbuhnya lurus-lurus, tetapi sekarang banyak yang condong dan bengkok karena sekitarnya banyak tanaman lain.

Begitu dengan Tamansiswa. Dahulu bentuknya rumah tinggal sekaligus tempat pendidikan (Wiyata Griya), sebagai pondok asrama, dan merupakan tempat berkumpulnya siswa, pamong dan orang tua siswa dalam bentuk perkumpulan. Tetapi kini banyak Perguruan Tamansiswa yang berbentuk seperti sekolah biasa. Tentang ruang kelas konsepsi pernah memiliki konsep “kelas tiga dinding”. Artinya kelas itu satu sisinya tanpa dinding, dan sisi itu sekaligus merupakan pintu masuk kelas. Hal ini diilhami oleh “ruang kelas alami” seperti di Shanti Niketannya Rabindranath Tagore (India).

Tetapi berhubung dengan berbagai kesulitan ekonomi yang merupakan penyebab barang-barang di kelas terbuka tersebut tidak aman, maka Ki Hadjar Dewantara terpaksa menyetujui kelas dengan empat dinding.

   Namun dinding keempat tersebut tidak sepenuhnya tertutup, setengahnya harus merupakan dinding kaca. Dengan demikian masih ada kesempatan suasana kelas yang tetap berkomunikasi dengan lingkungan. Bentuk kelas sudah berubah, tetapi fungsi kelas seperti ide semula masih tetap terwujud.

   Dahulu Tamansiswa merupakan perguruan atau tempat belajar tentang falsafah hidup, IPTEK, IMTAQ, tentang etika, estetika (seni) dan lain-lain. Kini Tamansiswa lebih cenderung sebagai sekolah biasa yang kegiatannya diatur dengan kurikulum dan manajemen sekolah hampir sama dengan sekolah-sekolah negeri.

   Dalam gerak/irama peluangannya terhadap penjajah. Taman siswa lebih menonjolkan nasionalisme dengan sikap tidak mau bekerja sama (non kooperatif) dan melawan (konfrontatif). Sekarang  Tamansiswa lebih banyak bekerjasama sebagai mitra pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Sikapnya kooperatif (kerjasama), konsultatif (tukar menukar informasi) dan korektif (saling mengingatkan).

   Bentuk, isi, dan irama perjuangan Tamansiswa memang sudah banyak berubah jika dibanding dengan waktu awal-awal beridirinya Dilihat dari sifat dan hakekatnya, Tamansiswa sekarang masih tetap seperti Tamansiswa dahulu, yaitu merupakan badan perjuangan Kebudayaan dan pembangunan masyarakat, bersifat Keluarga Suci dengan Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak dan Asas Tamansiswa 1922 sebagai Ibu, serta merupakan wakaf merdeka. Dengan rumus SBII, jelas Ki Hadjar Dewantara selalu menganjurkan adanya perubahan, adanya perkembangan sesuai dengan kemajuan masyarakatnya.

   Rumus SBII inilah yang merupakan jaminan adanya dinamika dalam Tamansiswa itu sendiri. Berpedoman pada teori SBII diharapkan orang dapat memahami perubahan dalam tubuh Tamansiswa yang mengandung nilai-nilai instrumental dan nilai fraksis. Sedangkan nilai dasar yang melekat pada sifat dan hakekat harus tetap dipertahankan.

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID I Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.32-34

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , ,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: