Irama Perjuangan Tamansiswa

  Perjuangan Tamansiswa berubah-ubah mengikuti perkem­bangan alam dan jamannya. Pada jaman penjajahan, perguruan Tamansiswa harus melawan penjajah , guna mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka perguruan Tamansiswa harus turut mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

  Irama perjuanga Perguruan Tamansiswa pada masa penjajahan adalah tidak mau berkerja sama (non koorperatif) dan kalau perlu melawan (konfrontatif) dengan penjajah. Sikap itu dibuktikan dengar menolak subsidi dari pemerintah penjajah dan melawan diberlakukannya Onderwijs Ordonanntic 1932, yaitu undang- undang sekolah partikelir / swasta.

  Pada masa pendudukan tentara Jepang, karena kehadiranya dipandang masyarakat sebagai Saudara Tua yang akan memberikan  kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, maka Perguruan Tamansiswa bersikap pura-pura tunduk terhadap peraturan pemerintah Jepang yang melarang swasta menyelenggarakan sekolah guru dan Sekolah Umum. Perguruan Tamansiswa menutup Taman Guru dan Taman Madya serta Taman Dewasa, dan diganti dengan Taman Tani (SMK Pertanian), Taman Rini ( SMK Keputrian ). dan Taman Masyarakat (Kursus Kejuruan).

  Namun secara tidak diketahui pemerintah pendudukan Jepang taman – taman  itu diberi juga ilmu pengetahuan seperti sekolah-sekolah umum. Sikap demikian oleh Ki Hadjar Dewantara diberi istilah “ngenthung” seperti kepompong.

   Setelah Indonesia merdeka, dalam rangka turut memper­tahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia, Perguruan Tamansiswa menyesuaikan visi dan misinya, dengan cita-cita dan tujuan kemerdekaan indonesia. Pendidikan di Tamansiswa meng­gunakan kurikulum pemerintah ditambah

  Ketamansiswaan. Irama perjuangan Tamansiswa adalah kooperatif (berkerja sama sebagai mitra pemerintah RI), konsultatif (tukar menukar informasi tentang pendidikan dan kebudayaan ) dan korektif (saling mengingatkan bila terjadi kekeliruan). Bila terpaksa harus mengikuti ketentuan yang isinya belum sesuai dengan prinsip hidup Tamansiswa, kita bersikap tunduk dan mengikuti ketentuan tersebut, sambil mencari peluang untuk membetulkannya. Dalam bahasa Jawa istilah itu disebut “ngeli nanging aja keli”

   Irama perjuangan ini selalu berubah-ubah disesuaikan dengan perkembangan alam dan jaman. Tetapi sifat dan hakekatnya harus tetap dipertahankan. Dengan demikian maka Perguruan Tamansiswa akan tetap hidup sepanjang masa.

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID I Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.43-44

Tag:, , , , , ,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: