Landasan Perjuangan Asas Tamansiswa 1922

  Asas Tamansiswa 1922 adalah keterangan asas Tamansiswa yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada pidato pembukaan perguruan Tamansiswa tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta Asas itu dalam Piagam Perjanjian Pendirian Persatuan Tamansiswa tahun 1930 dijadikan salah satu syarat pendirian Persatuan Tamansiswa.

   Melalui piagam perjanjian itu disebutkan bahwa asas itu harus tetap hidup sebagai pokok yang tidak boleh berubah, tidak boleh disangkal, dan tidak boleh dikurangi, selama nama Tamansiswa masin  hidup terpakai.

   Sejak berdirinya Tamansiswa 3 Juli 1922 sampai dengan Kongres Tamansiswa tahun 1947, Asas Tamansiswa 1922 digunakan  sebagai asas perjuangan Tamansiswa. Mulai Kongres tahun 1947sampai dengan Kongres tahun 1984 asas itu didampingi oleh dasar perjuangan Pancadarma. Dan sejak Kongres 1984, dalam berbangsa dan bernegara, Tamansiswa menggunakan asas Pancasila sebagai asas organisasinya. Maka Asas Tamansiswa 1922 ditetapkan sebagai landasan perjuangan Tamansiswa, dan Pancadarma dijadikan ciri khas persatuan Tamansiswa dalam mencapai cita-citanya

Asas Tamansiswa 1922 berisi 7 pasal:

Pasal 1

mengandung pengertian hidup merdeka guna mencapai hidup tertib damai, salam dan bahagia.

Pasal 2

mengandung pengertian metode Among sebagai sarana pencapaian hidup merdeka.

Pasal 3

mengandung pengertian perintah menggunakan peradaban bangsa sendiri sebagai sarana pemecahan masalah bangsa.

Pasal 4

mengandung pengertian pemerataan pendidikan.

Pasal 5

memerintahkan kehidupan mandiri sebagai perwujudan hidup merdeka.

Pasal 6

berani menolak bantuan yang mengikat dan

Pasal 7

mengamanatkan pengabdian terhadap Sang Anak harus dengan suci hati dan kemerdekaan lahir dan batin.

Ketujuh pasal tersebut merupakan landasan perjuangan Tamansiswa dalam memperjuangkan kelestarian dan pengembangan kebudayaan serta dalam memperjuangkan terwujudnya masyarakat tertib damai, salam dan bahagia.

  Tanpa dilaksanakannya Asas Tamansiswa 1922, mustahil perjuangan Tamansiswa melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia dapat terwujud dengan optimal. Tanpa dilaksanakannya Asas Tamansiswa 1922 mustahil pula perjuangan Tamansiswa mewujudkan masyarakat tertib damai, salam dan bahagia dapat terwujud.

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID I Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.49-50

Tag:,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: