Perjuangan Ki Hadjar Dewantara Membela Rakyat

   Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar Eropa (Europeesche Legere School) Ki Hadjar Dewantara kecil sudah berkeinginan untuk memberikan pendidikan bagi rakyat banyak. Hal itu di sebabkan karena selama belajar di ELS sebagian besar temannya adalah anak Eropa. Hanya sebagian kecil temannya yang dari bangsa Indonesia, yaitu anak-anak keluarga bangsawan. Sementara itu bila beliau pulang sekolah, beliau melihat begitu banyak rakyat yang tidak pernah mendapat kesempatan untak bersekolah. Lain dari pada itu Ki Hadjar Dewantara kecil juga merasakan bahwa apa yang diajarkan di ELS tidak pernah menyentuh pendidikan seperti yang dilakukan di rumah . seperti mengaji, menari, membaca sastra Jawa, dongeng dan cerita Indonesia. Apa yang diberikan di ELS melulu kebiasaan orang Eropa.

   Setelah tamat ELS, Ki Hadjar Dewantara tidak melanjutkan ke SMP (MULO), tetapi ke Sekolah Guru (Kweek School). Sekolah itu perikatan dinas, dan sebagian besar siswanya adalah anak-anak pegawai pemerintah Hindia Belanda. Tamatan sekolah itu diperuntuhkan menjadi Guru Sekolah Dasar bangsa Indonesia. Ki Kadjar Dewantara memasuki sekolah itu dengan maksud ingin mendidik rakyat banyak sambil hidup mandiri.

  Namun kehendak orang tua harus melanjutkan ke Perguruan Tinggi, maka setelah tamat KS, Ki Hadjar Dewantara melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta (STOVIA). Di samping kuliah, beliau juga berjuang membela rakyat. Beliau masuk anggota Boedi Oetomo dengan tugas bagian propaganda. Begitu juga setelah keluar dari STOVIA beliau melanjutkan peluangannya di bidang politik dan pers sampai beliau diasingkan ke Negeri Belanda.

   Pada waktu beliau diasingkan ke Nederland selama 6 tahun, di sana beliau kembali teringat akan niatnya untuk memberikan pendidikan untuk rakyat banyak. Di Nederland Ki Hadjar Dewantara mengambil akta mengajar (pendidikan guru tingkat tinggi). Pada waktu mendirikan Perguruan Tamansiswa beliau menekankan agar pendidikan itu diutamakan untuk rakyat banyak. Kalau penjajah Belanda membatasi rakyat jelata hanya dapat belajar di Hollands Javaanshe School sampai kelas II SD, maka Perguruan Tamansiswa membebaskan rakyat untuk belajar sesuai kemampuannya. Dalam perjuangan hidupnya Ki Hadjar Dewantara memilih berjuang di kalangan pers, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Keempat – empatnya adalah wadah perjuangan untuk membela rakyat. Lebih dari itu untuk dapat merakyat , pada usia 40 tahun beliau membuang gelar kebangsawanannya Raden Mas Suwardi Suryaningrai dan berganti  nama menjadi Ki Hadjar Dewantara pada 3 Februari 1928.

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID I Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.26-27

Tag:,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: