Sifat dan Hakekat Tamansiswa

Menurut Peraturan Besar Persatuan Tamansiswa ada tiga sifat dan hakekat Tamansiswa.

  1. Merupakan badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat.
  2. Bersifat Keluarga Suci dengan Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak dan Asas Tamansiswa 1922 sebagai Ibu.
  3. Merupakan badan wakaf merdeka yang tunduk kepada peraturannya sendiri sejauh tidak bertentangan dengan hukum agama dan negara.

Sebagai badan perjuangan kebudayaan, Tamansiswa selalu memperjuangkan kelestarian dan pengembangan kebudayaan Nasional. Kebudayaan Nasional yang aslinya berupa sari-sari dan puncak-puncak kebudayaan daerah itu harus dilestarikan dan dikembangkan secara kontinyu, konvergen, dan konsentris melalui pendidikan dalam arti luas.

Sebagai badan pembangunan masyarakat, Tamansiswa selalu berusaha untuk mewujudkan masyarakat tertib damai dan salam bahagia sesuai masyarakat adil makmur berdasar Pancasila. Usaha itu utamanya dilakukan melalui sendi hidup kekeluargaan.

Sebagai Keluarga Suci dengan Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak dan Asas Tamansiswa 1922 sebagai Ibu, Tamansiswa selalu berusaha untuk tidak komersial, tidak pamrih pribadi/golongan, bersikap merakyat, demokratis dengan pimpinan kebijaksanaan, bersikap kekeluargaan, bersikap Among, mandiri dan semata-mata untuk mengabdi bagi kejayaan Sang Anak/generasi penerus bangsa. Sikap demikian bersumber dari sikap laku Ki Hadjar Dewantara dan Asas Tamansiswa 1922.

Sebagai wakaf merdeka, Tamansiswa bukan milik pendiri dan anggotanya saja, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia yang setuju akan asas dan ciri khasnya. Perguruan Tamansiswa juga berbentuk badan hukum dengan nama Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa.

Sebagai yayasan, kepemilikan dan lain-lain dari Tamansiswa diatur dalam Peraturan Besar Persatuan Tamansiswa dan dilindungi oleh Undang-undang.

Baik sebagai badan perjuangan kebudayaan, dan badan pembangunan masyarakat, sebagai keluarga suci  maupun sebag wakaf merdeka, Tamansiswa diwujudkan dengan pendidikan dalam  arti luas berbentuk perguruan.

 Melaini perguruan, siswa dididik secara informal, formal dan nonformal untuk:

  1. Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Nasional Indonesia secara kontinyu, konvergen, dan konsentris.
  2. Mewujudkan masyarakat tertib damai, salam dan bahagia sesuai masyarakat adil dan makmur berdasar Pancasila, melalui asa hidup kekeluargaan.
  3. Bersikap merakyat, demokrasi dan leiderschap, bersikap merdeka, among, mandiri, makarya, sederhana, serta cinta pengabdian, sesuai konsepsi Ki Hadjar Dewantara yang disebut Asas Tamansiswa 1922.

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID I Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.36-37

Tag:, , , , ,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: