Tujuan Tertib Damai, Salam dan Bahagia

   Sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan konsepsi Ki Hadjar Dewantara dan Asas Tamansiswa 1922, Tamansiswa ingin mewujudkan masyarakat tertib damai dan salam bahagia. Tujuan itu selalu diingatkan oleh orang-orang Tamansiswa setiap kali berjumpa, baik secara lisan maupun tulisan, dengan ucapan “Salam dan bahagia “.

   Masyarakat tertib adalah masyarakat tertata, teratur dan swadisiplin (disiplin atas kesadaran sendiri). Masyarakat damai adalah masyarakat yang tenteram, tidak senang kekerasan dan tidak suka permusuhan. Masyarakat salam bahagia adalah masyarakat yang merasa tercukupi kebutuhan lahir-batinnya seperti : sandang, pandan, perumahan, pendidikan, kesehatan, hiburan, kebebasan beribadah, kebebasan berkumpul, kebebasan berpendapat, perlindungan hukum, perlindungan hari tua dan lain lain. Tiada ketertiban kalau tidak ada kedamaian, dan sebaliknya tidak akan ada kedamaian bila kebutuhan lahir batin manusia masih terhalang- halangi.

   Kunci pokok untuk mencapai masyarakat tertib damai adalah terlebih dahulu menjadikan suasana hidup yang salam bahagia bagi anggota- anggota masyarakatnya. Tujuan mewujudkan masyarakat tertib damai dan salam bahagia adalah identik dengan mewujudkan masyarakat merdeka, berdaulat, bersatu, adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Masyarakat itu ditandai dengan 4 ciri yaitu:

  1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  2. Meningkatkan kesejahteraan umum
  3. Mencerdaskan kehidupan bangsa
  4. Turut mewujudkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial

Sedangkan ciri-ciri masyarakat tertib damai dan salam bahagia adalah :

  1. Masyarakat yang teratur, swadisiplin, masing-masing warganya menempatkan hak asasinya seimbang dengan kewajiban asasinya.
  2. Masyarakat kekeluargaan yang demokratis, transparan, dan akuntabel, saling kasih sayang sesama, saling menghormati dan menghargai adanya perbedaan, dan saling tolong menolong dan gotong royong dalam memecahkan masalah.
  3. Masyarakat yang seluruh anggotanya suka berikhtiar (makarya) dan hidup sederhana, merasa tercukupi kebutuhan sandang pangan, perumahan, kesehatan, pendidikan, dan hiburan dari hasil pendapatannya sendiri secara halal.
  4. Masyarakat yang seluruh anggotanya merasa bebas untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya, merasa bebas berpikir dan berpendapat, bebas berkumpul dan berserikat, merasa terlindungi hukum dan keamanannya dengan tetap menjaga kebebasan hidup orang lain dalam kehidupan bersama.

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID I Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.54-55

Tag:, , , , , , , ,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: