Pada Masa Penjajahan Belanda.

   Penjajahan Belanda di Indonesia terkenal dengan kekejamannya. Dimulai dengan monopoli dagangnya (VOC) sampai dengan pemerintahan Hindia Belanda yang mengakibatkan rakyat Indonesia menjadi bodoh, miskin dan terbelakang. Kehadiran

Tamansiswa di tengah-tengah penjajahan Belanda itu dimaksudkan :

  1. Untuk mendidik jiwa merdeka sebagai bekal untuk me­wujudkan Indonesia merdeka.
  2. Memberikan kesempatan belajar bagi sebagian besar rakyat yang tidak sempat mendapat pendidikan dari pemerintah Hindia Belanda.
  3. Ingin mengakhiri kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan melalui mempertajam daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan budaya nasional Indonesia.
  4. Mengganti sistem pendidikan kolonial dengan sistem pendidikan nasional.

   Melihat perjuangan Tamansiswa yang semakin hari semakin meluas dan didukung rakyat banyak, maka pemerintah Hindia Belanda bermaksud untuk menghentikannya. Dikeluarkan beberapa peraturan antara lain:

  1.  Tahun 1932 dikeluarkan Onderwijs Ordonnantie (OO) yang melarang diselenggarakannya sekolah swasta yang tidak mengikuti : kurikulum, persyaratan guru, persyaratan administrasi dan lain-lain. Karena OO tersebut jelas-jelas akan mematikan sekolah swasta, maka Ki Hadjar Dewantara dengan didukung segenap pimpinan Tamansiswa memprotes dan mengadakan perlawanan secara gerakan di bawah tanah.
  2.  Larangan mengajar bagi guru-guru yang tidak berijazah sekolah guru Pemerintah Belanda. Larangan itu    mengakibatkan banyak guru Tamansiswa ditangkap dan sebagian sekolah Tamansiswa ditutup.
  • Pencabutan tunjangan keluarga bagi pegawai pemerintah Hindia Belanda (Kindertolage) yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Larangan ini mengakibatkan banyak siswa Tamansiswa yang dipindahkan ke sekolah pemerintah.
  • Pencabutan kartu langganan (Abonemen) KA bagi siswa sekolah swasta dan kartu bebas berkereta api (vrijbiljet) bagi keluarga pegawai PJKA yang anaknya belajar di sekolah swasta.

   Menghadapi larangan-larangan itu Ki Hadjar Dewantara melakukan protes kepada Gubernur Jenderal di Bogor. Beliau menyerukan kepada segenap pimpinan Perguruan dan Wanita Tamansiswa untuk terus berjuang dengan semboyan “Rawe-rawe rantus, malang-malang putung“, Sura dira jayaningrai lebur dening pangastuti” Kepada para siswa Ki Hadjar Dewantara menyerukan : “Dengan Abonemen atau tidak belajar berjalan terus“”

   Akhirnya berkat kegigihan Ki Hadjar Dewantara yang dibantu dari kalangan perguruan Tamansiswa, Budi Utomo, Pasundan, Persatuan Mahasiswa PPPL Organisasi isteri Sedar., PSII dan lain-lain. Pada tahun 1936 Ortderwijs Ordonnaniie dicabut dan sekolah swasta termasuk Tamansiswa dapat hidup sampai sekarang.

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID I Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.91-92

Tag:, , , , , , , , , ,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: