RIWAYAT PERJUANGAN TAMANSISWA

   Pada tahun 1921 Ki Hadjar Dewantara memasuki Perkumpulan Slasa Kliwonan di Yogyakarta. Perkumpulan itu dipimpin oleh Ki A geng Suryomataram dengan tujuan : Mencita-citakan kebahagiaan bagi diri pribadi, bangsa dan umat manusia sedunia (Mamayu kayuning Sarira, Bangsa, Manungsa / Bawana), Anggotanya para ahli pendidikan, ahli jiwa, ahli budaya dan ahli politik. Berdiskusi tiap malem Slasa Kliwon dan Ki Hadjar Dewantara ditugasi sebagai Paniteranya.

   Dalam suatu diskusi dipermasalahkan bagaimana cara mencapai kemerdekaan Indonesia, setelah melalui perang-perang nusantara dan peijuangan politik selalu gagal. Diputuskanlah bahwa untuk mencapai kemerdekaan diperlukan pendidikan jiwa merdeka. Maka ditugaskanlah kepada Ki Hadjar Dewantara untuk mendidik jiwa merdeka bagi anak-anak. Ki Ageng Suryomataram ditugasi untuk mendidik jiwa merdeka bagi orang-orang dewasa.

  Untuk mewujudkan tugas mulia itu maka pada 3 Juli 1922 bertempat di Yogyakarta Ki Hadjar Dewantara dengan dibantu Nyi Hadjar Dewantara dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Tamansiswa.

   Mula-mula perguruan itu bernama Nationaal Onderwijs Instituui Tamansiswa. Kemudian berubah menjadi Perguruan Kebangsaan, Perguruan Nasional Tamansiswa, dan sekarang menjadi ibu Pawiyatan Tamansiswa. Kehadiran Perguruan Tamansiswa itu disambut dengan 3 (tiga) reaksi dalam masyarakat:

  1. Kelompok yang sangat setuju, dan mereka membantu.
  2. Ada kelompok yang menganggap Tamansiswa hanya akan memperbodoh para siswa, khususnya dari para pegawai pemerintah Hindia Belanda.
  3. Menganggap Tamansiswa adalah komunis, utamanya dari kalangan penjajah.

   Menghadapi 3 (tiga) reaksi tersebut Ki Hadjar Dewantara tidak marah. Beliau menyatakan : “Yang setuju mari membantu dan yang tidak setuju tidak perlu mengganggu“. Selanjutnya selama 8 tahun (1 windu) Ki Hadjar Dewantara melakukan “tapa meneng” artinya tidak mempromosikan Tamansiswa.

Nama-nama pengetua Tamansiswa yang mengikuti sejak berdirinya adalah :

  1. RM. Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara)
  2. RA. Soetartinah (Nyi Hadjar Dewantara)
  3. Ki Ageng Suryamataram
  4. RM. Soetatmo Soeryokoesoemo
  5. RMH. Soeryo Poetro
  6. BRM. Soebono
  7. Ki Pronowiciigdo
  8. Ki Soetopo Wonoboyo
  9. Ki Tjokrodirjo

   Pada tahun 1923 jumlah perguruan Tamansiswa bertambah menjadi 19 buah kemudian dibentuk Persatuan Tamansiswa. Pada tahun 1930 jumlah perguruan Tamansiswa menjadi 52 buah kemudian diselenggarakan Kongres 1

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID I Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.88-89

Tag:, , ,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: