Hidup Mandiri

   Menurut Asas Tamansiswa 1922 pasal 5, untuk dapat hidup merdeka, orang harus hidup mandiri. Hidup mandiri atau hidup berdiri di atas kaki sendiri mengandung dua arti:

  1. Mampu menyelesaikan tugas dan kewajiban dengan kemam-puan sendiri (berdiri di atas kaki sendiri).
  2. Mampu membiayai hidup dari hasil pendapatannya sendiri secara halal dan wajar (opor bebek mateng karana awake dhewek)

   Untuk mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab serta kewajian dengan kemampuan sendiri, orang harus mempunyai ilmu dan teknologi. Dengan kemampuan menyelesaikan tugas, tanggung jawab, dan kewajiban melalui kemampuan sendiri, orang akan mendapatkan kebahagiaan. Ingat candra sengkala berdirinya Tamansiswa “Lawan Sastra Ngesti Mulya” yang artinya dengan ilmu kita capai kebahagiaan.

   Untuk dapat membiayai hidup dari pendapatan sendiri secara halal dan wajar diperlukan sikap senang berusaha (makarya), sikap hemat (tidak boros), dan sederhana (sekedar ada). Istilah dalam bahasa Jawa : “Opor bebek mateng karono awake dewek” artinya sayur itik masak karena minyaknya sendiri. Pedoman hidup sederhana menurut Raden Mas Sosro Kartono (kakak RA. Kartini) adalah 6 SA yaitu :

  1. Sabutuhe, artinya batasilah pada kebutuhan yang pokok, jangan semua kebutuhan diuasahakan.
  2. Sakperlune, artinya dari kebutuhan pokok itu pilihlah yang perlu-perlu saja, yang tidak perlu ditunda dulu.
  3. Sacukupe, artinya dari yang perlu-perlu itu masih dikecilkan jumlahnya menurut kecukupannya, jangan berlebihan.
  4. Sakmestine, artinya dari yang perlu dan cukup itu mana yang musti harus ada, itulah yang diutamakan.
  5. Sakbenere, artinya kebutuhan, keperluan, kecukupan, dan kemestian itu yang sebenarnya dan jangan dibuat-buat atau membohong.
  6. Sakepenake, artinya untuk mengusahakannya dengan cara wajar dan halal, tidak memaksa diri dan tidak melanggar ketentuan agama dan hukum negara.

   Di samping hidup sederhana, agar dapat hidup ,mandiri orang harus hidup makarya, yaitu gemar berusaha dan rajin bekerja. Hindari hidup yang malas, dan menggantungkan diri kepada orang lain. Dengan hidup mandiri dan hidup sederhana itu orang akan tertib hidupnya, damai / tenteram, hatinya, sejahtera lahirnya, dan bahagia batinya, serta puas kemauannya. Ia akan dapat bebas merdeka pikirannya dan bebas merdeka perbuatannya karena hidupnya  tidak terpaksa dan tidak dipaksa.

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID III Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.57-58

Tag:, , , , , , , , , , , , , , , ,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: