Konsep Kekeluargaan

   Istilah kekeluargaan berasal dari kata keluarga, mendapat awal ke dan akhiran an yang berarti sifat-sifat baik dari keluarga. Kata keluarga berasal dari akar kata kawula dan warga yang artinya gabungan antara perorangan (Aku) dengan sesamanya (Kita) atau satunya micro kosmos dan macro cosmos. Keluarga merupakan masyarakat yang terkecil.

Sifat-sifat keluarga yang baik, (kekeluargaan) meliputi :

  1. Beketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kasih sayang sesama (bahasa Sunda: silih asih)
  3. Saling menghargai dan menghormati adanya perbedaan (bahasa Sunda : silih asuh, Jawa : mong kinemong)
  4. Saling tolong menolong dan gotong rovong (Sunda : silih asa“)
  5. Demokratis dengan pimpinan kebikjasanaan
  6. Ingin hidup sejahtera dan bahagia bersama dalam wadah kesatuan persatuan

   Di Perguruan Tamansiswa hidup kekeluargaan itu menjadi sendi organisasi dan menjadi konsep dasar kemasyarakatan. Sebagai sendi organisasi, kekeluargaan merupakan perpacuan dasar demokrasi dan pimpinan kebijaksanaan. Berdasar demokarasi, maka segala permasalahan di Tamansiswa dipecahkan melalui musyawarah anggota perwakilannya, baik melalui rapat, konferensi, ataupun kongres. Dalam musyawarah itu segala Keputusan diupayakan dengan cara mufakat, dan dihindari penggunaan suara terbanyak (50%+1). Berdasar pimpinan kebikjasanaan artinya keputusan yang diambil secara mufakat itu harus didasari kebikjasanaan yang telah disepakati bersama, yaitu harus mengandung asas Pancasila, landasan perjuangan Asas Tamansiswa 1922, ciri khas Pancadarma, dan tujuan tertib damai, salam dan bahagia.

   Sebagai konsep dasar kemasyarakatan, kekeluargaan digunakan sebagai dasar hubungan antar perorangan dalam mewujudkan kodratnya sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial. Melalui sendi hidup organisasi kekeluargaan dan konsep dasar kema­syarakatan kekeluargaan itu maka ciri-ciri kehidupan di Tamansiswa antara lain:

  1. Dalam berorganisasi selalu organisatoris (patuh terhadap ketentuan organisasi) dan organis (hidup, luwes, dan tidak mati). Bentuk organisasi fungsional dan bukan bentuk lini atau lini dan staf. Bentuk kepemimpinan Majelis (orang banyak) yang bekerja secara kolektif (kerjasama) dan kolegial (bertanggung jawab bersama). Anggota organisasi bersikap aktif (tidak acuh) dan kreatif (selalu berusaha menemukan hal-hal yang baru).
  2. Dalam melaksanakan pengelolaan (manajemen) Perguruan selalu demokratis (berdasarkan hasil musyawarah anggota), terbuka (transparan), dan penuh tanggung jawab (akuntabel). Pimpinan dipilih oleh anggota dalam musyawarah, karenanya disebut Ketua dan bukan Kepala Hubungan Pimpinan dan anggota merupakan satu kesatuan (manunggaling kawulo lan gusti).
  3. Hubungan antar anggota penuh keakraban, antar anggota dengan anggota saling kasih sayang, saling menghargai dan menghormati adanya perbedaan, saling tolong menolong dan gotong royong, serta menguapayakan adanya hidup sejahtera dan bahagia bersama (mamnyu hayuning salira, bangsa, manungsa).

Sumber : PENDIDIKAN KETAMANSISWAAAN JILID III Disusun oleh Ki Soenarno Hadiwijoyo Hal.66-67

Tag:, , , , , , , , , , , , , , ,

About tamansiswajkt

Trisula (mengakhiri kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: